Seribu Cerita Dalam Gubuk
Derita
Karya : Ahmet Chaw
Dari
gubuk ini saya belajar beribu cerita, kadang tersusun dari seribu derita
manusia yang terhimpun dari seribu berita. Duduk merenung, ditemani es kelapa
muda, di kala sinar matahari membakar asa. Sebaris judul, sederet pemikiran
liar, segumpal masalah, beberapa hikmah, lalu kutuang setelah matang ke dalam
sebuah kisah.
Di
gubuk ini kutemukan ribuan kosa kata, sebanyak jalinan anyaman bambu yang
menjadi dindingnya. Saling-silang dan saling menguatkan hingga cerita tertulis
berlembar-lembar jumlahnya, kadang tumpang tindih dan bertumpuk-tumpuk, yang
penting sebuah cerita telah terbentuk.
Di
gubuk ini nenek Eem sering menyendiri, berkontemplasi, kadang introspeksi,
kadang sengaja membiarkan tumbuh kecambah imajinasi. Hidup semakin pelik dan
ngulik. Ada saatnya akal dan logika yang telah ada gagal menjawab seribu tanya.
Maka di gubuk ini kerap menemukan jawabannya. Dalam seribu cerita, seribu
derita dan seribu berita. Kadang tanpa tema, tanpa tanda baca dan tanpa tahu
apa maknanya, namun yang nenek tahu, pasti bila saatnya tiba semua akan jelas
terbuka.
Sang
nenek bercerita padaku, tentang masa depan orang kecil di desa yang selalu terbelakang,
tentang permasalahan tetangga, sesekali memperbincangkan carut-marut bangsa dan
negara yang tiada habisnya. Tentang hidupnya sebatang kara, setiap hari
berteman Kasur bantal yang telah tergelar seribu cerita orang desa, dengan
seribu berita, lebih didominasi problema, derita dan do’a. Di gubuk ini tersimpan seribu keluhan
orang-orang terbuang dan terpinggirkan. Juga rencana dan harapan yang lebih
sering gagal diwujudkan. Lalu terkumpul dalam benak dan pikiran, dan tinggal
kutuangkan dalam sebuah tulisan. Di gubuk ini kutemukan seribu kegelisahan,
kecemasan dan ketakutan melihat keadaan yang semakin memprihatinkan. Beratnya
kehidupan, sulitnya untuk bertahan, lelahnya menghadapi gempuran perkembangan
zaman. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali harus tetap menghadapi sepahit
apapun kenyataan.
Semoga
apa yang menjadi harap dan ratap sang nenek dalam doa, Allah wujudkan jadi
nyata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar