Sabtu, 19 Desember 2020

Ucapan Cinta

 

Selamat Ulang Tahun yang Ke-16 Orda Karmapack


Foto : Acara Poesaka

 

Ucapan Cinta

Bagian dari keluarga,

Orang-orang yang biasa aku lihat setiap hari
Duduk bersama dalam ruang kebersamaan
Menyalin ilmu satu sama lain
Menjadi kepompong, yang beranjak menjadi kupu-kupu cantik

Ditempatkan diruang yang sama, hari demi hari
Menjalani amanah
Membangun agenda pengabdian
Menguatkan niat akan visi yang telah kita bentuk bersama

Menemuimu dalam canda tawa bersama
Sesekali terselip wejanganmu disana
Nasihat dan pembelajaran
Yang tidak mungkin ditemukan di kursi perkuliahan

Ada kalanya adikmu ini lupa
Nyeleneh sikap ngawur omongan
Meski kami lakukan, kau tetap bangga tanpa duka
Masih menyungging senyum menjalin suka

Masih ku ingat
Saat muncul dahaga ilmu yang berat
Berangusan nafsu memuncah karena amarah
Seakan semuanya berharkat
Kau hadir bagai air, menentramkan kami

Dengan apa kami membalasmu?
Hanya ucapan terimakasih berbentuk cinta
Yang bisa kami bawa sebagai penghargaan
Dan sebait doa dimanapun kau berada

Terimakasih…

 sudah ada dalam hidup kami
Mengajari kami banyak hal
Tentang sakit dan harapan
Juga tentang keikhlasan

Terimakasih…

telah mau menemani
Menaungi kami di bawah sayapmu
Memperhatikan kami
Menjadi teman, orang tua, dan guru yang hebat

Terimakasih...
Untuk tidak membiarkan waktu dan jarak mempengaruhi persahabatan kita
Untuk semua sapaan dan teguranmu
Untuk segala dukungan ketika kewalahan menghadapi hidup

Terimakasih...
Membiarkan kami menjadi adikmu yang manja
Membiarkan kami menjadi kakakmu yang bandel
Membiarkan segala keanehan kami

Terimakasih...
Telah memberi energi kuantum atas kreativitas kami
Telah membuat kami terus berkarya
Telah membuat kami berharga
Meski dengan cara yang sederhana

Terimakasih...
Telah mengingatkan ditengah alpa kami
Telah menjaga di tengah lalai kami
Telah menjadi cermin atas ilmu kami yang lusuh

Terimakasih...
Telah memberi ruang untuk berkeluh kesah
Telah cukup mempercayai kami tentang cerita hidupmu
Telah menjadi inspirasi bagi kami

Terimakasih...
Telah memotivasi dalam dekapan silahturahmi
Telah menjadi peneduh dalam lorong-lorong perjuangan yang keras
Telah membawa pendar cahaya keyakinan

Terimakasih...
Telah membuat kami bangkit disaat terpuruk
Tak mau terlihat lelah padahal kau begitu
Tak mau terlihat jatuh padahal kau begitu
Tak sedikitpun ada kegetiran
Tak ada kepedihan
Selalu terlihat kuat
Untuk mengobarkan semangat kami

Terimakasih atas segala kehangatan, senyuman, lelucon, dan kenangan yang kau beri
Terimakasih telah memberi sukacita warna dalam hidup
Terimakasih telah tertawa dan menangis bersama kami

Terimakasih, hanya itu yang sanggup kami berikan padamu

Maafkan kami
Atas segala perilaku yang menyimpang
Atas segala ego yang tak terbendung
Maaf... jika kami sempat menjadi beban

Ketika hari berganti menjadi pasti
Kami akan pergi untuk meneruskan cita-citamu
Menggapai harapan kita
Melajutkan langkah ini untuk meraih segudang prestasi

Kami yakin
Kelak kita akan bertemu di ruang kesuksesan bersama
Karena kita pernah meniti pembelalajaran bersama


Di akhiri dengan ucapan cinta, dan

Selamat ulang tahun Orda Karmapack

Tak sanggup lagi merajut aksara menata kata
Meneteskan buliran hangat merajut cinta
Menata suara membentuk makna
Hanya puisi cinta biasa yang tercipta dari kesadaran dan ikatan keluarga

Yang menjadikannya luar biasa.


Ahmet,

Cianjur - 19 Desember 2020

Minggu, 20 September 2020

Tulisanku



             Foto* ocs.medcom.id


 Tulisanku


Karya : Dina Nurkamilah


Pagi ini tak seperti pagi yang telah berlalu,

walaupun biasanya di temani secangkir kopi dan sebuah buku,

entah apa yang membuat suasana ini tak menentu,

sehingga aku tak dapat merangkai kata kata untukmu,

satu jam telah berlalu.


ku mencoba meraih secangkir kopi yang berada di depanku,

dan menyeruputnya dengan sedikit kenangan masa lalu,

lalu ku ambil buku itu untuk menulis sesuatu,

sehingga aku menyukai tulisanku dibanding kamu.


Cianjur, 19 September 2020

Minggu, 30 Agustus 2020

Perasaan Matahari

 

Perasaan Matahari

Karya : Ahmet Chaw

 



Matahari terbit sebagai tanda berawalnya kehidupan baru, tapi kenyataannya masih banyak orang tenggelam dalam masa lalu yang kelabu dan aku salah satunya, itulah perasaan yang saat ini menggumpal dan mendesak dalam dada, tak berwujud yang ada hanya air mata.

 

Dulu sering kau berucap janji, perihal cahaya harapan dan kepastian, namun sekarang aku sadar tidak ada janji yang pasti selain matahari yang terbit setiap hari.

Kita meninggalkan jejak atas langkah kaki yang perlahan melebur bersama bayangan, biarlah kau pergi agar aku tahu kalau bukan pada kehilangan kemana rindu akan dituntaskan.

 

Aku bukan hujan yang turun penuh hasrat basahi bumi, tapi aku pria yang memilih diam, dan tidak basahimu dengan luka, aku tidak pernah takut dengan kehilangan, sebab cinta sejati membutuhkan jarak agar kita bisa saling membuktikan.

Seribu Cerita Dalam Gubuk Derita

 

Seribu Cerita Dalam Gubuk Derita

Karya : Ahmet Chaw


           Kondisi Rumah Nenek Eem, Jum’at (28/8/2020) Warungkondang, Cianjur Jawa Barat

 

Dari gubuk ini saya belajar beribu cerita, kadang tersusun dari seribu derita manusia yang terhimpun dari seribu berita. Duduk merenung, ditemani es kelapa muda, di kala sinar matahari membakar asa. Sebaris judul, sederet pemikiran liar, segumpal masalah, beberapa hikmah, lalu kutuang setelah matang ke dalam sebuah kisah.

Di gubuk ini kutemukan ribuan kosa kata, sebanyak jalinan anyaman bambu yang menjadi dindingnya. Saling-silang dan saling menguatkan hingga cerita tertulis berlembar-lembar jumlahnya, kadang tumpang tindih dan bertumpuk-tumpuk, yang penting sebuah cerita telah terbentuk.

Di gubuk ini nenek Eem sering menyendiri, berkontemplasi, kadang introspeksi, kadang sengaja membiarkan tumbuh kecambah imajinasi. Hidup semakin pelik dan ngulik. Ada saatnya akal dan logika yang telah ada gagal menjawab seribu tanya. Maka di gubuk ini kerap menemukan jawabannya. Dalam seribu cerita, seribu derita dan seribu berita. Kadang tanpa tema, tanpa tanda baca dan tanpa tahu apa maknanya, namun yang nenek tahu, pasti bila saatnya tiba semua akan jelas terbuka.

Sang nenek bercerita padaku, tentang masa depan orang kecil di desa yang selalu terbelakang, tentang permasalahan tetangga, sesekali memperbincangkan carut-marut bangsa dan negara yang tiada habisnya. Tentang hidupnya sebatang kara, setiap hari berteman Kasur bantal yang telah tergelar seribu cerita orang desa, dengan seribu berita, lebih didominasi problema, derita dan do’a. Di gubuk ini tersimpan seribu keluhan orang-orang terbuang dan terpinggirkan. Juga rencana dan harapan yang lebih sering gagal diwujudkan. Lalu terkumpul dalam benak dan pikiran, dan tinggal kutuangkan dalam sebuah tulisan. Di gubuk ini kutemukan seribu kegelisahan, kecemasan dan ketakutan melihat keadaan yang semakin memprihatinkan. Beratnya kehidupan, sulitnya untuk bertahan, lelahnya menghadapi gempuran perkembangan zaman. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali harus tetap menghadapi sepahit apapun kenyataan.

Semoga apa yang menjadi harap dan ratap sang nenek dalam doa, Allah wujudkan jadi nyata.

 

Selasa, 25 Agustus 2020

Cahaya Tanpa Warna

Foto : Ulleo (IPTC) Pixnio.com

Puisi : Jalaludin Rumi


Mengapa bertanya tentang tingkah laku

Ketika Kau adalah esensi-jiwa,
Dan sebuah jalan untuk melihat HadiratNya,
Ditambah lagi Kau bersama kami.
Bagaimana Kau bisa khawatir?

Kau mungkin juga membebaskan beberapa perkataanmu dari kosakata
mengapa dan bagaimana bisa tidak mungkin.
Buka sarang-mulut dan biarkan mereka terbang jauh.

Kami semua dilahirkan oleh kemalangan,
tetapi kafilah ini masih mengembara dan akan membuat kemah dalam kesempurnaan.

Lupakan kategori omong kosong!
disana dan disini.
Ras dan bangsa dan agama.
Mulai melangkah ke inti dan tujuan.

Kau adalah jiwa dan cinta,
bukan bidadari, malaikat atau manusia.
Kau adalah seorang pria baik-wanita baik.

Tidak ada lagi pertanyaan sekarang
untuk apa yang kita lakukan di sini.

Rabu, 19 Agustus 2020

Puisi Kedua

Puisi kedua,

Paduan tawa dan duka,
Antara ratap dan harap,
Selalu tergelepar dalam altar altar gusar.

Puisi Kedua,

Mengukir nama diatas nama yang sama,
Dalam nisan tak bertuan diantara ranah jiwa.

Oh Puisi Keduaku,

Datangmu bagai sangkakala dalam tuna rungu sukmaku,
Kau sadarkan aku dalam mati suri sadarku,
Tatkala purnama tak lagi seindah penglihatan mata.



*foto  : Kompasiana.com

Malam Dalam Fragmen Ingatan Ibunda


Ternyata kita adalah sebuah cerita//kita belajar mengenal ilusi//

mengenal tangis bayi//juga belajar mengenal bunyi pengendara para petani dan nelayan//

:kita yang kadang lupa dengan musim panen tetumbuhan serta terumbu karang yang menyediakan 

pesan gelombang,

Kita sebentar lagi akan sampai pada arah dan penglihatan yang melelahkan//sebenar-benarnya diri 

kita adalah suara//suara yang menciptakan rasa rindu,

Dan jika pula kita dihilangkan oleh arah angin// maka setiap penjuru//

setiap jalan yang berlubang//setiap segala rupa dan album//

;aku susun namamu dan nama ayahku.

Selamat malam ibu. 







Ucapan Cinta

  Selamat Ulang Tahun yang Ke-16 Orda Karmapack   Ucapan Cinta Bagian dari keluarga, Orang-orang yang biasa aku lihat setiap hari Duduk b...